Senin, 02 Desember 2013

KEBERADAAN KESENIAN RANDAI DI DESA KOTO KOCIAK KECAMATAN GUGUK KABUPATEN LIMA PULUH KOTA,SUMATERA BARAT.


         
  Salah satu daerah di Indonesia adalah Minangkabau yang mempunyai bermacam-macam bentuk seni serta budaya pertunjukannya. Dalam tradisi Minangkabau bentuk kegiatan seni pertunjukan itu dikenal dengan istilah kata “permainan rakyat” atau dengan kata lain bahwa istilah permainan rakyat adalah  suatu konsep masyarakat minangkabau dalam mengadakan berbagai macam seni pertunjukan tradisional.
          Salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional masyarakat atau bisa juga disebut kesenian daerah minangkabau tersebut adalah kesenian randai. Kesenian Randai pada umumnya dapat kita temui di berbagai pelosok daerah minangkabau, walaupun demikian tentu perubahan dan perkembangannya di setiap daerah mempunyai latar belakang yang berbeda.  Kesenian daerah adalah salah satu bentuk kesenian yang ada di daerah yang mencerminkan ciri khas dari daerah itu sendiri. Kesenian daerah dikenal juga dengan kesenian tradisional yang perlu dijaga keasliannya. Kesenian tradisional dapat berkembangan apabila kesenian itu bersifat dinamis dan terbuka sesuai dengan perkembangan zaman. Randai merupakan drama pentas tradisional Minangkabau, Randai dimainkan dilapangan terbuka dalam bentuk arena. Randai tergolong sendratari yaitu seni, drama dan tari. Randai mengandung unsur dialog, tuturan, tari (gerak silat), lagu, dan musik (saluang, talempong).
          Dengan demikian kesenian randai bisa disebut sebuah kesenian Minangkabau yang kompleks, dimana di dalamnya terdapat perpaduan seni, yaitu seni drama, seni  suara dan seni tari. Selain itu kesenian randai merupakan sebuah kesenian yang sarat dengan nilai-nilai moral, agama dan budaya. Kesenian ini merupakan wujud identitas, jati diri yang dimiliki masyarakat Minangkabau yang tidak dimilik oleh daerah lain. Oleh karena itu, seharusnya masyarakat menyadari apa yang dimiliki dan mampu untuk melestarikan serta mengembangkan kesenian ini terutama sekali dalam masyarakat Minangkabau dan kemudian bisa mempromosikannya ke daerah-daerah lain bahkan keluar negeri sekaligus.
          Kehadiran kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat minangkabau seperti yang terdapat di daerah  Batipuh juga Di ISI Padang Panjang merupakan satu contoh kesenian tradisonal masyarakat minangkabau yang  berkembang sampai sekarang ini, begitu juga dengan Randai yang terdapat di desa koto kociak kecamatan Guguk kabupaten Lima puluh kota merupakan cerminan kebudayaan yang mencakup nilai-nilai (norma) ide atau gagasan, pandangan hidup dan tingkah laku sosial, dalam masyarakat Desa Koto kociak pertumbuhan dan perkembangan kesenian Randai akan cendrung berubah, dengan adanya perubahan tersebut merupakan salah satu adanya bentuk pembaharuan terhadap kesenian tradisional menurut perkembangan zaman.
          Keberadaan kesenian Randai di Desa Koto kociak saat sekarang ini kurang begitu diminati oleh kalangan masyarakat Desa Koto kociak khususnya generasi muda, mereka lebih menyukai kesenian atau musik yang berkembang pada abad sekarang ini, sungguhpun demikian kesenian randai di desa Koto kociak sampai sekarang masih tetap di pakai sebagai pengiring upacara-upacara tradisional, di antaranya upacara batagak penghulu, upacara sunat rasul sehingga dengan demikian pertumbuhan dan perkembangannya mengalami proses yang lambat.
          Perubahan dan perkembangan Randai ini merupakan suatu fenomena perubahan keebudayaan yang perlu dikaji dalam penelitian ini. Kesenian Randai ini merupakan salah satu kesenian yang digunakan dalam mengiring beberapa hiburan pada alek nagari (helat negeri) seperti
·        Upacara batagak penghulu (memilih penghulu)
·        Upacara menyambut tamu.
·        Upacara sunat rasul.
Pertunjukan Randai menjadi hiburan segar bagi masyarakat pendukungnya dan dapat memberi pelajaran bagi siapa yang mengamati alur ceritanya dengan baik. Nilai-nilai sosial dapat diamati melalui teks-teks yang dilahirkan, baik dalam bentuk dialog maupun dalam bentuk gurindam yang mengiringi gerak galombang. Meskipun kesenian randai membawakan naskah kaba (cerita rakyat minangkabau lama) namun naskah ini mengandung nilai dan norma kehidupan masyarakat nagari.
Pertunjukan randai yang dulunya sangat digemari oleh masyarakat koto kociak ini sekarang berangsur-angsur menghilang dari minat masyarakat, hal itu dikarenakan kurangnya peran masyarakat dalam pengembangannya dan semakin digemarinya acara-acara music seperti orgen tunggal. Hal itu di perparah dengan minimnya perhatian pemerintah terhadap kesenian yang telah mendarah daging dalam masyarakat ini, hal itu dapat kita lihat dari tidak adanya program khusus atau pembelajaran Randai kepada siswa di sekolah-sekolah.
Kenyataan demikian memang sangat menyedihkan, apabila tidak segera dilakukan berbagai upaya positif  untuk perkembangan dan kelangsungan grup randai, bukan mustahil pada masa yang akan datang kesenian randai akan punah untuk selamanya. Sebagai aset budaya tradisional yang penting, kesenian Randai adalah sesuatu yang harus kita pertahankan. 

Pentingnya pelajaran seni khususnya seni teater bagi perkembangan budaya bangsa


Abstrak: Teater adalah suatu kesenian yang di mainkan bersama-sama dengan cara ber akting di atas pentas, cerita yang di angkat dalam Teater sangat beragam di antaranya; kebudayaan suatu masyarakat. Dengan cerita yang berkaitan dengan kebudayaan, secara tidak langsung Teater memberi indikasi penghormatan kepada budaya tersebut. Memberi Pelajaran terhadap teater kepada siswa di sekolah-sekolah berarti telah membantu melestarikan budaya yang ada di bangsa ini.
                   Kata kunci: Teater, budaya, siswa

Latar belakang
Indonesia merupakan suatu Negara yang kaya akan kebudayaan, antara satu daerah dengan daerah yang lain pasti memiliki budaya yang berbeda. Jelaslah, bahwa kebudayaan manusia bukanlah suatu hal yang hanya timbul sekali atau yang bersifat sederhana. Tiap masyarakat mempunyai suatu kebudayaan yang berbeda dari kebudayaan masyarakat lain dan kebudayaan itu merupakan suatu kumpulan yang berintegrasi dari cara-cara berlaku yang dimiliki bersama dan kebudayaan yang bersangkutan secara unik mencapai penyesuaian kepada lingkungan tertentu.[1]  Dengan banyaknya budaya bangsa yang tersebar di tanah ibu pertiwi ini membuat kita bangga menjadi orang indonesia. Akan tetapi semakin berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan, serta kecendrungan masyarakat untuk menjadi manusia modern, kebudayaan yang telah mengakar sejak lama mulai dilupakan. Anak-anak muda lebih menyukai dan menikmati budaya yang datang dari barat, sehingga secara otomatis mereka akan menerapkannya dalam kehidupan, sehingga akan melahirkan budaya baru yang cenderung lebih mengarah kepada sifat negative karena sudah pasti budaya barat sangat berlawanan dengan budaya yang ada di indonesia. watak manusia menjadi tema yang memperoleh perhatian khusus karena dalam bentuk apapun watak ini selalu berinteraksi dengan kondisi-kondisi yang mengelilinginya dan menghasilkan budaya.[2]
Berkurang bahkan menghilangnya pelajaran siswa terhadap seni di sekolah adalah sebab nyata kurangnya minat masyarakat terhadap kebudayaan bangsa sendiri. Para siswa lebih cenderung di ajarkan masalah budi pekerti, sehingga mereka kehilangan kepekaan terhadap seni. Seni budaya adalah cermin jatidiri bangsa, sehingga kalau masalah ini terabaikan akan melahirkan bar-bar yang tak berbudaya. Melalui pendidikan seni khususnya seni teater muatan pelajaran etika, norma, dan perilaku dapat di ajarkan sedini mungkin melalui siswa dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas.
Pelajaran tentang teater khususnya teater tradisional adalah tameng yang paling ideal untuk menyaring budaya yang akan masuk ke dalam masyarakat serta menjaga kelestarian budaya yang telah berkembang sejak lama dalam masyarakat tersebut. Hal itu terbukti nyata karena di dalam teater tradisional selalu mengangkat persoalan yang berkaitan budaya dan prilaku yang ada dalam masyarakat itu sendiri. Akan tetapi semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena pada zaman sekarang ini, masyarakat mulai “buta”terhadap teater tradisional karena kesenian tersebut kalah bersaing dengan kesenian musik yang telah merajalela kemana-mana. Tidak adanya pelajaran tentang teater di sekolah-sekolah membuktikan kurangnya perhatian pemerintah terhadap teater, sehingga kesenian yang syarat akan budaya bangsa ini tidak mengalami kemajuan bahkan mengalami kemunduran yang signifikan.

Pembahasan
Seni teater adalah seni yang sudah berkembang sejak lama, baik di dunia maupun di indonesia sendiri. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya jenis teater yang bermunculan. Di indonesia sendiri secara garis besar terdapat dua jenis teater yaitu teater tradisional dan teater modern. Teater tradisional rakyat yang tumbuh dan berkembang di setiap wilayah di indonesia menunjukkan kalau masyarakat indonesia pada umumnya “dulu” menyukai kesenian teater, walaupun telah terjadi pergeseran fungsi, dari upacara keagamaan menjadi media hiburan bagi masyarakat. Akan tetapi semakin berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan, kesenian teater mulai ditinggalkan. Masyarakat khususnya anak muda menganggap kalau kesenian teater adalah suatu yang membosankan dan bahkan dianggap kuno oleh sebagian orang. Hal itu dapat dilihat dari perbandingan penonton teater dan penonton sebuah konser band. Jika sebuah pementasan teater “bergandengan” dengan sebuah pementasan grup band dalam satu wilayah, maka sudah dapat dipastikan kalau penonton konser akan jauh lebih banyak dari penonton sebuah garapan teater. Hal tersebut tentu sangat di sayangkan, karena dalam sebuah garapan teater terdapat banyak nilai-nilai, baik itu nilai sosial maupun nilai moral terkandung di dalamnya yang bisa di serap dan di pahami oleh masyarakat sehingga bisa membentuk mental dan martabat manusia yang menontonya, berbeda dengan pementasan sebuah konser musik yang hanya menghadirkan suatu hiburan.
          Semakin “tenggelamnya” kesenian teater dalam masyarakat, di akibatkan oleh kurangnya perhatian masyarakat terhadap kesenian itu sendiri, hal itu tentu berdampak negatif bagi perkembangan budaya yang ada pada wilayah tersebut. Ironinya, pemerintah juga seakan telah membantu “mengubur" kesenian teater dengan menghapuskan program seni khususnya teater dari kurikulum sekolah. Pemerintah lebih cenderung menerapkan kurikulum dan pembelajaran yang mengarah pada pembentukan budi pekerti pada siswa sehingga hal tersebut berakibat jenuhnya siswa dalam belajar dan memahami kehidupan yang ada di masyarakatnya. Fenomena tawuran yang ada dimana-mana di indonesia  merupakan indikasi kuat contoh dari jenuhnya siswa terhadap pelajaran yang ada di sekolah. Dalam kasus ini, orang telah lupa kalau ada yang telah disingkirkan dari pelatihan psikologi anak, yaitu kurangnya kesempatan siswa dalam berkreatifitas di dalam seni khususnya seni teater. hilangnya kesempatan siswa dalam belajar seni secara umum akan membuat mereka kehilangan pengetahuan dalam membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, indah dan tidak indah sehingga akan menghasilkan generasi bangsa yang berbudaya kekerasan dan menghalalkan apa yang menurutnya benar tanpa memperhitungkan norma-norma yang ada dalam masyarakat tersebut. Secara umum cabang-cabang seni yang memiliki norma tata aturan tertentu untuk mengarahkan ke suatu tujuan tertentu yang sifatnya mendidik. Untuk itulah diperlukan pelajaran terhadap seni yang bisa mendidik prilaku anak seperti seni teater. Apresiasi terhadap cipta seni sejak lama merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan pendidikan yang berkenaan dengan pembinaan kepekarasaan seseorang terhadap fenomena estetik dan artistic.[3]
          Kesenian teater merupakan suatu cabang seni yang dapat membantu mendidik prilaku, karena di dalamnya terkandung banyak nilai-nilai didik. Dalam kesenian teater khususnya teater tradisional, menampilkan budaya-budaya yang ada pada masyarakat setempat sehingga dengan mengajarkan teater jenis ini kepada siswa, secara tidak langsung akan memberikan pemahaman terhadap budaya yang tumbuh dan berkembang di bangsa ini. Kehadiran budaya-budaya asing yang merambah ke relung-relung budaya tradisi sedikit banyak akan mempengaruhi pola prilaku masyarakat. Meskipun kenyataannya memperlihatkan bahwa pengaruh budaya asing itu tidak semuanya negative, namun ironisnya justru pengaruh yang negative yang di serap oleh masyarakat. Masyarakat khususnya anak muda lebih cenderung meniru pergaulan bebas, hura-hura, cara berpakaian aneh-aneh yang sebenarnya tidak sesuai dengan budaya bangsa kita.
          Dengan banyaknya budaya asing yang masuk ke indonesia, hendaknya pemerintah memasukkan pelajaran teater ke dalam kurikulum pembelajaran siswa baik untuk sekolah menengah umum( SMU), sekolah menengah pertama ( SMP) maupun sekolah dasar ( SD), karena seperti yang sudah di jelaskan di atas kalau di dalam sebuah seni teater khususnya teater tradisional mengandung nilai-nilai budaya bangsa yang berharga untuk dikembangkan. Sehingga dengan demikian budaya bangsa yang sudah ada sejak lama dapat “terselamatkan” dari derasnya arus perubahan zaman. Dengan berkesenian, seorang akan mengetahui mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang berdampak buruk bagi dirinya sendiri.
          Permasalahan yang muncul saat ini adalah bagaiamana agar seni teater itu dapat menarik bagi masyarakat, sehingga pembelajaran terhadap kesenian tidak hanya di anggap enteng. Bagaimanapun juga nilai-nilai yang terkandung di dalam teater mampu memberikan pengaruh yang positif terhadap perkembangan masyarakat. Tantangan tersebut terkait dengan image orang tua yang menganggap remeh pelajaran seni khususnya seni teater.

Kesimpulan
          Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin mempermudah budaya barat masuk dan “menghancurkan” budaya bangsa yang ada di negeri ini. Meskipun kenyataannya budaya barat tersebut tidak sepenuhnya negative, akan tetapi masyarakat lebih cenderung mengakar kepada pengaruh yang negative  tersebut. Untuk itu perlu di lakukan suatu yang positive dalam menanggapinya, Di samping memberikan pelajaran moral kepada siswa di sekolah-sekolah, hendaknya juga di iringi dengan pemberian pelajaran seni khususnya seni teater. Karena di dalam seni teater  “mengajarkan” bagaimana cara melestarikan budaya masyarakat tersebut.  Penekanan pada moral bukan tak mengandung hal-hal yang problematic. Di satu pihak ia menjanjikan terciptanya masyarakat yang sesuai dengan ajaran, tetapi dipihak lain membawa pemeluk lupa kepada lingkungan hidup yang nyata.[4]
          Dunia itu adalah tempat pergerakan senantiasa, tempat kemajuan yang tidak berkeputusan. Yang baru itu mendapat tempatnya dengan menghancurkan dan menewaskan yang lama. Dunia itu medan perjuangan yang tidak berkeputusan antara dua aliran yang bertentangan.[5]  Sudah seharusnya masyarakat mengetahui, kalau budaya baru yang datang tersebut belum tentu lebih baik dari budaya mereka yang lama. Kita boleh mengambil hal-hal positif yang ada pada budaya barat tersebut, akan tetapi kita tetap harus berpijak kepada kepada budaya kita yang telah ada sejak lama. Dengan mengajarkan tentang teater di sekolah, hendaknya para siswa mengetahui tentang berharganya budaya yang ada di negeri ini, sehingga mereka tidak lagi beranggapan kalau budaya bangsa adalah suatu yang kuno dan ketinggalan zaman.
          Dengan bekal kemantapan, kecintaan terhadap budaya bangsa sendiri akan semakin mempertebal rasa optimis, bahwa sikap dan perilaku bangsa kita tidak mudah tergoyahkan oleh pengaruh budaya orang yang mengglobal. Dengan demikian, pendidikan seni khususnya seni teater yang di ajarkan di sekolah-sekolah dapat di jadikan media untuk pengembangan dan pelestarian budaya bangsa.



DAFTAR PUSTAKA
Ihromi, T,O. Antropologi budaya, Jakarta, Yayasan obor Indonesia, 1996.
hatta, mohammad. Alam pikiran yunani, Jakarta, tintamas, 1980.
Abdullah, taufik. Sejarah dan masyarakat, Jakarta, pustaka firdaus, 1987.
hassan, Fuad. Dimensi budaya dan pengembangan sumber daya manusia, Jakarta, balai pustaka, 1995.
dewey, john. Budaya dan kebebasan, Jakarta, yayasan obor Indonesia, 1998,


[1] Ihromi, T,O. Antropologi budaya, Jakarta, Yayasan obor Indonesia, 1996, hal 32.
[2] dewey, john. Budaya dan kebebasan, Jakarta, yayasan obor Indonesia, 1998, hal 14.
[3] hassan, Fuad. Dimensi budaya dan pengembangan sumber daya manusia, Jakarta, balai pustaka, 1995, hal 151.
[4] Abdullah, taufik. Sejarah dan masyarakat, Jakarta, pustaka firdaus, 1987, hal  17.
[5] hatta, mohammad. Alam pikiran yunani, Jakarta, tintamas, 1980, hal 16.


Hanafi: “memerankan tokoh orang tua sangat susah”


         
           Pementasan teater merupakan sebuah penciptaan alur cerita yang di sampaikan melalui adegan-adegan yang dilakukan oleh para aktor. Seorang aktor di tuntut kemampuannya dalam memerankan sebuah tokoh, baik itu tokoh anak muda, orang tua, maupun orang gila sekalipun. Memerankan suatu tokoh tentu sangat tidak mudah. Diperlukan pemahaman terhadap segala aspek, mulai dari aspek psikologi, fisikologi dan aspek sosial yang di gambarkan dalam naskah. Di samping memiliki pengetahuan tentang karakter yang akan dimainkan, tentu perlu pula latihan dalam mencari “bentuk” yang paling ideal dari sebuah pemeranan. Hal tersebut dapat diperoleh dari latihan yang ekstra keras, juga tidak lupa melakukan penelitian terhadap tokoh tersebut.
          Tugas seorang aktor di atas pentas adalah membawakan cerita dan dapat meyakinkan penonton terhadap peran yang ia bawakan. Sebuah pertunjukan dapat di bilang sukses, jika penonton yang menyaksikan pertunjukan tersebut dapat terhibur dan teryakinkan dengan cerita. Seorang aktor yang baik akan mampu membawakan peran yang dapat membuat penonton “terpukau” masuk kedalam  emosi yang dihadirkan di panggung. Tentu tidak semua peran dapat dilakukan dengan mudah, memerankan seorang kakek yang sudah sangat tua tentulah sangat berat apalagi bagi orang yang baru pertama kali memerankan tokoh seperti demikian.
          Hal itulah yang dirasakan oleh Hanafi, mahasiswa semester lima jurusan teater ISI Padang Panjang dalam memerankan satu tokoh dalam  naskah “Bahtera” karya Darminta soeryana. Dalam naskah bergenre absurd ini, ia memerankan tokoh kakek yang sudah sangat tua, berumur dua ratus tahun. Dilihat dari pementasan, garapan ini bisa dibilang sangat sukses, karena mampu memberi rasa “puas”kepada penonton yang hadir pada malam itu. Tidak hanya penonton, aktor yang memainkannya pun sangat merasa puas. “ saya sangat senang malam ini, pertunjukan malam ini membuat saya puas dan sangat senang melihat penonton yang hadir tidak henti-hentunya memberi tepuk tangan kepada saya, amazing!! “ itulah ungkapan rasa puas yang dituturkan oleh hanafi.
          Meskipun merasa sangat puas, ternyata ia merasakan beban yang berat memerankan tokoh ini. Dia menjelaskan kalau memerankan tokoh orang tua sangat-sangat sulit, membuat badan cepat capek dan tentunya menguras stamina. Dari segi fisikologi (fisik), tentulah berperan “menjadi” orang tua membutuhkan kemampuan yang baik dalam meniru segala sesuatu yang ada pada diri orang tua sesungguhnya, seperti jalannya yang harus membungkuk dan pelan maupun dari segi vocal yang harus identic dengan orang tua. Berjalan membungkuk dengan suara kakek-kakek tentu membutuhkan konsentrasi yang lebih dalam bermain teater. Durasi pertunjukan adalah tantangan lain dari seorang aktor, karena disinilah dituntut konsistensi seorang aktor dalam memerankan suatu karakter. Di dalam naskah bahtera, memerankan tokoh kakek berusia lanjut selama kurang lebih satu jam memang suatu yang amat “mengerikan” bagi seorang aktor. Dari awal sampai akhir pementasan harus terjebak di dalam karakter kakek-kakek dan tidak boleh lepas dari karakter tersebut. Jika sampai lepas sedikit, maka sudah pasti emosi yang di hadirkan akan berbeda. Masalah besar yang dihadapi aktor di ISI padang panjang umumnya adalah konsistensi peran. Mereka yang mencoba memerankan tokoh yang jauh berbeda dengan sifat asli dari dirinya selalu kesulitan jika memerankan tokoh tersebut dalam durasi yang panjang. Karakter yang telah ia bangun sejak awal terkadang bisa “lepas” ketika sampai pada bagian tengah dari cerita. Hal tersebut dapat disebabkan karena sudah berkurangnya stamina dan pemahaman dari aktor tersebut. Seperti yang terjadi pada Hanafi dalam pementasan naskah “bahtera” tersebut.
          Pementasan Bahtera yang secara keseluruhan terlihat sangat sempurna, tetap saja memiliki kelemahan dan kekurangan yang harus diperbaiki. Kelemahan yang dimaksud adalah kurangnya konsistensi peran yang dibawakan oleh Hanafi. Dari awal pementasan, ia sudah mencoba “mengiring” dan meyakinkan penonton kalau tokoh yang ia perankan adalah seorang kakek-kakek yang sudah sangat tua. Pada bagian awal ini semua berjalan sangat sempurna, akan tetapi ketika sampai pada bagian tengah dari cerita, masalah konsistensi mulai “menampakkan” dirinya. Sekejap, ketika Hanafi memukul rafa’i( sejenis alat musik pukul dari aceh), karakter asli seperti suara dan jalan sehari-hari mulai “membunuh” karakter orang tua yang telah ia bangun. Bagi orang-orang yang tidak mengerti akan teater akan menganggap itu sebagai suatu yang biasa karena mereka hanya melihat dari segi hiburan, sedangkan bagi orang yang sedikit banyak tau tentang teater akan menganggapnya suatu kesalahan.
          Setali tiga uang, ternyata setelah pementasan hanafi juga mengakui “kekurangannya”. Ia menjelaskan, kalau ia baru pertama kali memerankan tokoh seperti itu sehingga merasa sedikit terbebani. Memerankan tokoh kakek-kakek sambil memukul rafa’I yang berat membuat semua badan terasa letih. “ jujur, saya baru pertama kali memerankan tokoh seperti ini, dan itu sangat membuat saya letih sehingga tadi saya sedikit lepas control ketika memukul rafa’I yang berat itu.” Ungkapnya.

Tambo gustav: pertunjukan “aktor sekaligus kru panggung”


       
  Teater meupakan suatu perealisasikan ide-ide ke dalam satu bentuk pertunjukan yang akan di suguhkan kepada penonton. Sebuah garapan teater memaparkan kreatifitas seorang penggarap yang unik dan tentunya selalu berbeda dengan yang lainnya. Hal tersebut memungkinkan masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan yang relative berbeda sehingga tidak menimbulkan rasa bosan terhadap teater. salah satu contoh garapan yang memiliki kreatifitas dari sutradaranya adalah pertunjukan Tamboo minangkabau yang berjudul Tamboo gustav karya Dede pramayoza atau yang lebih akrab di sapa bapak Dede.
          Garapan tersebut terlihat sangat berbeda dengan garapan lainnya. Setting panggung yang berbeda setiap pertukaran adegannya membuat seolah naskah ini sulit untuk di garap oleh orang lain, tapi tidak dengan bapak Dede.  Dari segi inilah kreatifitas yang berbeda di munculkan, jika pada biasanya orang yang bertugas menyusun set, property adalah seorang kru artistic panggung, akan tetapi beliau menghadirkan “kejutan” kalau yang memindah-mindahkan property tersebut adalah aktor. Hal tersebut tentu sangatlah “ganjil”, karena kita semua mengetahui kalau seorang aktor adalah orang yang memainkan cerita di atas pentas dan media penyampai pesan kepada penonton. Tapi walaupun demikian, aktor terlihat sangat baik dalam “menjadi” kru panggung dadakan tersebut. Mereka memindah-mindahkan set dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa mengganggu emosi dan stamina mereka. Hal itu terlihat dari semangat yang tidak hentinya-hentinya mereka tunjukkan kepada semua yang hadir pada malam itu.
          Fenomena pertunjukan teater “aktor sekaligus kru panggung” memang jarang sekali kita temukan, karena pada sebuah garapan lazimnya yang bertugas mengurus panggung adalah tim artisttik yang dibantu oleh kru-krunya. Dengan pergantian setting yang cepat memang membutuhkan tindakan yang cepat pula, mungkin karena itulah bapak Dede menyuruh aktor bisa membantu membuat perpindahan set panggung di lain untuk menasbihkan diri sebagai penggarap yang berbeda dari yang lainnya. Perpindahan satu set panggung dalam suatu garapan tidak hanya terdapat dalam naskah tambo gustav tapi juga dapat kita temukan dalam naskah-naskah lain seperti naskah kotak surat terakhir, naskah siti baheram dan masih banyak yang lainnya.    
          Banyak setting tempat dalam suatu naskah memang membutuhkan ide yang lebih dari penggarapnya, karena setiap perpindahan set harus tidak mengganggu arus jalannnya cerita pementasan. Emosi-emosi yang telah di bangun sejak awal oleh aktor tidak boleh hilang atau lepas hanya karena ada perpindahan tersebut. Hal itulah yang harus disiikapi dengan bijak  oleh seorang sutradara. Bagaimanapun juga, setiap pertunjukan merupakan suatu hiburan yang diperuntkkan kepada penonton atau masyarakat. Dengan kata lain, pertunjukan tersebut tidak boleh membuat penonton merasa “rishi” dan bosan. Mungkin itulah yang ditangkap oleh bapak dede. Membiarkan penonton menunggu lama terhadap cerita karena ada masalah perpindahan setting, membuatnya ingin melakukan suatu kreasi yang unik dengan menyuruh aktornya yang bekerja.  Hal tersebut terbukti sangat efektif, melihat pertunjukan tetap berjalan menarik dan menghibur penonton yang hadir .
          Dari segi cerita yang dihadirkan memang sangat “rumit” karena menyangkut masalah sejarah minangkabau dan sistem kekerabatan yang ada di minangkabau tersebut. Seorang penonton yang awam tentu akan sangat terhibur karena pertunjukan itu karena pada hakikatnya mereka hanya menyaksikan “tingkah” dari aktornya. Pertunjukan berkonsep komedi ini memang mampu mengundang tawa dari siapapun yang hadir di sana, meskipun mereka tidak mengetahui apa yang diceritakan dalam naskah tersebut.  Pertunjukan kali ini memang menghadirkan sedikit “kebingungan” terhadap jalannya cerita, sebagai seorang penonton yang pada waktu itu hadir menyaksikan acara, penulis pun tidak memahami apa cerita yang di sampaikan. Kebanyakan dari orang-orang hanya tertawa terbahak-bahak tanpa mengetahui apa yang ditertawakannya. Seperti yang di sampaikan oleh saudara Dany septia adera sehabis pementasan.
          “ ketawa itu wajib, karena lihat akting fauzan yang lucu membuat aku tertawa. Jujur aku sedikitpun tidak tahu ceritanya seperti apa, mungkin menceritakan tentang minangkabau.” Begitulah Dany mengunkapkan dengan logat teater (perpaduan logat batak dan logat minang) yang ia miliki. Hal tersebut menunjukkan, kalau pada umumnya orang yang hadir pada pertunjukan tersebut “bertindak” sebagai orang awam yang hanya menyaksikan jalan pementasa tanpa tahu sedikitpun apa pesan yang di sampaikan cerita. Hal itu terlihat dari uangkapan yang dilontarkan oleh Dany di atas, Jika mahasiswa semester lima jurusan teater saja tidak mengetahui apa maksud dari cerita tersebut, maka sudah dapat kita tebak apa yang dialami oleh mahasiswa semester di bawahnya dan tentunya oleh mahasiswa yang bukan berasal dari jurusan teater sendiri.
          Tapi secara keseluruhan, garapan tamboo gustav yang di usung oleh bapak Dede ini sangat menghibur penonton yang memadati gedung teater arena pada malam itu. Mereka yang datang dan menikmati terlihat puas dengan apa-apa yang dihadirkan oleh aktor di atas pentas.   

“Bahtera” yang menghibur


Penggarapan teater merupakan suatu proses menuangkan ide-ide kreatif ke dalam sebuah naskah dan di wujudkan dengan adegan-adegan pembentuk cerita yang akan di tampilkan di atas pentas dan di apresiasi oleh penonton. Ide kreatif yang di tuangkan oleh penggarap tentu sangat berbeda dengan ide yang dimiliki penggarap lainnya. Limpahan hasil pemikiran kreatif tersebut bisa terdapat dalam pola adegan, tata setting, tata lighting, tata busana maupun property yang di gunakan. Hal itu yang terlihat dalam pementasan naskah “bahtera” karya Darminta Soeryana di Teater arena Isi Padang Panjang, kamis (28/9).
          “Bahtera” sendiri adalah naskah yang di adaptasi dari naskah kereta kencana karya Eugene Eunesco. Pertunjukan yang di adakan jam delapan malam ini, sangat di apresiasi oleh penonton yang memadati gedung tersebut. Dari segi cerita, naskah “bahtera” ini tidak memiliki perbedaan dengan “kereta kencana”, menceritakan sepasang suami-istri yang telah berumur 200 tahun tapi belum juga di karuniai seorang anak dan sedang menunggu sebuah bahtera( kematian) menjemputnya.
          Setting panggung yang dihadirkan oleh penggarap sungguh “fenomenal”, dimana panggung di penuhi oleh puluhan boneka, ada yang di gantung dan ada yang berserakan di lantai. Di dalam panggung juga terdapat gantungan tempat tidur bayi, serta terdapat rafa’I ( alat musik yang berasal dari Aceh). Dalam garapan kali ini, sutradara memang sangat menonjolkan kebudayaan aceh.
          Pertunjukan yang berlangsung selama kurang lebih satu jam ini sangat menghibur penonton yang hadir. Hal itu terlihat dari tidak henti-hentinya mereka tertawa melihat tingkah kocak para aktor di atas pentas.  Dan setelah pementasan, mereka semua tidak henti-hentinya memberikan tepuk tangan yang meriah terhadap pertunjukan tersebut. Cerita yang diperankan oleh Hanafi dan Bunda leni, dari segi hiburan memang sangat bagus dan dari segi pesan yang di sampaikan juga tidak kalah bagusnya. Kritik-kritik pedas yang “disamarkan” dalam dialog seakan telah menjadi “bumbu” lain dari “enaknya” cerita.
          Tidak hanya penonton yang merasa puas terhadap pertunjukan, aktor yang memainkan adegan juga merasa sangat puas. Seperti yang di rasakan oleh hanafi. Meskipun pada awalnya merasa amat terbebani memerankan tokoh kakek yang berumur 200 tahun, tapi pada akhirnya juga merasa sangat senang dengan apresiasi yang diberikan oleh penonton yang hadir.
“ saya sangat senang sekali melihat banyakknya penonton yang hadir dan memberikan tepuk tangan yang banyak kepada saya, saya sangat terkejut ketika selesai pementasan melihat mereka tidak beranjak dari tempat duduk mereka.” Urai hanafi.
          Hanafi sendiri menceritakan, kalau proses latihan dari naskah ini kurang dari dua bulan. Hal itu yang membuat dia sedikit terbebani sebelum pementasan. Tapi setelah pementasan, dia langsung merasa sangat senang karena semuanya berjalan sesuai yang diharapkan. Tidak hanya penonton dan aktor yang puas dengan pementasan, sutradara juga terlihat puas dengan kinerja para aktornya. Hal itu terlihat dari tidak hentinya beliau tersenyum ketika pementasan berakhir.
          Meskipun pertunjukan “bahtera ini” terlihat sangat menghibur, tapi pepatah, “di dunia ini tidak ada yang sempurna” memang tidak bisa terelakkan. Meskipun penonton yang lain merasa kinerja aktor tidak ada “cacadnya”, seorang yang berkecimpung di dunia teater pasti merasakan kekurangannya. Memerankan tokoh yang berumur 200 tahun tentu sangatlah berat dan beresiko, factor konsistensi adalah masalah utama dari pemeran dalam naskah ini. Hanafi sering kali lepas kontrol terhadap peran yang ia bawakan, suara kakek-kakek yang telah coba ia hadirkan sejak awal terkadang menghilang dan menampilkan suara aslinya. Dan yang paling mencolok adalah ketika ia berdendang dan memukul rafa’I. Setali tiga uang, ternyata hanafi juga menyadari kesalahannya. Dia mengatakan kalau memerankan tokoh tersebut sangatlah berat, membuat pinggang sakit dan tentunya menghadirkan rasa capek. Selain karena baru pertama kali memerankan tokoh yang berumur 200 tahun, waktu proses latihan yang minim adalah penyebab lainnya.
          “Sudah jelas itu bukan konsep sutradara, sebenarnya itu kesalahan saya karena telah lepas control. Pembelaan yang saya ajukan: yang pertama saya harus berdendang dengan suara tua menyanyikan lirik aceh yang saya kurang pasif, yang kedua yaitu dimana saya harus membungkukkan badan sambil memukul rafa’I yang sangat berat dan itulah yang mebuat saya letih dimana keringat saya bercucuran dan pinggang saya terasa amat sakit ketika itu. Dan ketiga, proses latihan sangat minim yang hanya mempunyai waktu kurang dari 2 bulan, dan dalam waktu yang singkat itu ada juga kendala seperti aktor sakit sehingga latihan diliburkan selama kurang lebih dua minggu.” Dia menambahkan.

Pentingnya pembelajaran Randai dalam menyikapi Arus perubahan zaman di Minangkabau


      Seorang lelaki setengah baya berumur 35 tahun sedang asik melatih anak-anak yang ada di sekelilingnya membentuk gerakan-gerakan yang menyerupai gerakan silat. Sesekali terdengar suara tepukan galembong dari beliau lalu di ikuti oleh sekelompok anak tersebut. Ya, lelaki tersebut sedang melatih Randai anak-anak di kecamatan mungka, Kabupaten 50 kota.
          Nama lelaki tersebut adalah Imran, seorang guru di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) yang ada di sana.  Beliau selalu rutin 3 kali seminggu dalam melatih para generasi muda yang ada di sana, agar mereka semua tahu akan budaya dan kesenian yang seharusnya berkembang di masyarakat. “ ya, selalu rutin 3 kali seminggu. Insyaallah kalau tidak ada halangan yang melintang, setiap jumat, sabtu, dan minggu sore kita selalu mengadakan latihan di sini. pembelajaran randai sangat positif bagi anak, agar mereka sedikit tau lah tentang kesenian tradisional yang ada di minangkabau.”
          Biasanya pak Imran mengajarkan randai, di mulai pada pukul 16.30 setelah sholat ashar dan berakhir jam 18.00. Meskipun pada awalnya hanya sedikit anak yang berminat dalam mengikuti latihan ini, beliau tetap semangat dan tidak pernah putus asa. “ pada awalnya hanya 6 orang anak yang mau ikut latihan, tapi sekarang Alhamdulillah sudah mencapai 18 orang.” Bertambah banyaknya jumlah anggota latihan randai bapak Imran di karenakan mulai sadarnya para orang tua terhadap pendidikan anak. Randai memang merupakan salah satu bentuk teater tradisional yang kaya akan unsur budaya dan pendidikan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Daripada membiarkan anak bebas mengikuti pergaulan yang semakin modern, yang sedikit banyak pasti akan menghadirkan dampak yang negative maka lebih baik mengajarkan anak tentang kesenian yang kaya akan manfaat positif. Hal itulah yang di ungkapkan salah satu orang tua anak yang mengikuti latihan randai. “ bagus itu, dengan latihan randai maka waktu dalam bermain warnet dan PS (playstation) nya sedikit berkurang.” Orang tua anak yang lain juga mengungkapkan hal yang serupa, “ daripada hura-hura kesana kemari, kan lebih baik di ajarkan randai. Randai itu bagus kok, banyak pendidikan dan tentunya itu sangat menyenangkan.”
          Semakin banyaknya kesadaran orang tua terhadap pentingnya berkesenian, seperti sedikit menghadirkan angin segar terhadap perkembangan Randai di Minangkabau ini. Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa zaman sekarang ini kesenian randai telah “ditinggalkan” karena kalah saing dengan kesenian modern seperti orgen tunggal, bahkan ada sebagian masyarakat yang “buta’ terhadap kesenian tradisional tersebut. Hal tersebut tentu sangat ironis, mengingat pada zaman dahulu, pertunjukan Randai sangat “ diagungkan” karena syarat akan pesan-pesan sosial dan pesan moral di dalamnya.
          Di Minangkabau, kesenian merupakan pamenan rang mudo, permainan anak muda-muda. Pertunjukan kesenian yang merangkum semua jenis kesenian ialah randai. Sebuah kesenian tradisi yang hidup di Minangkabau yang sudah ada sejak lama, sejak antar komunitas dari satu nagari dan nagari lain bersosialisasi. Pola melingkar dengan penonton/penikmatnya mengelilingi permainan randai, telah menyatukan, membaurkan antara penonton dan pemain. Di dalam sebuah pertunjukan randai, ditemui berbagai jenis kesenian yang khas seperti;  seni suara (dendang/ gurindam), musik(saluang, talempong, gendang), gerak ( akting, pencak, tari, galombang),  sastra/cerita (dialog).  Teater rakyat Minangkabau ini mencerminkan kehidupan di Minangkabau sendiri karena ceritanya diadaptasi dari budaya setempat. Begitu juga dengan gerakan silat yang digunakan dalam pergelaran randai biasanya juga merupakan gerakan silat dari daerah setempat.
          Randai adalah satu jenis kesenian warisan budaya dari masyarakat minangkabau. Akan tetapi pada zaman sekarang ini, pementasan randai sudah sangat langka. Randai yang dulunya digunakan untuk mengisi acara dalam pesta pernikahan maupun pesta khitanan, sekarang ini telah kalah bersaing dengan kesenian-musik modern seperti band maupun orgen tunggal. Anak-anak muda seperti menganggap kalau kesenian tradisional tersebut telah kuno dan ketinggalan zaman. Mereka cenderung lebih menyukai bentuk seni yang berkembang secara global dan mendunia, daripada kesenian yang mengakar sejak lama dalam masyarakatnya. 
          Minimnya pelajaran tentang kesenian randai di sekolah-sekolah adalah sebab lain dari berkurangnya minat masyarakat khususnya anak muda terhadap kesenian yang “melegenda” di minangkabu ini. “Tak kenal maka tak dekat, tak dekat maka tak sayang” . Jika para anak muda tidak di beri pengetahuan tentang Randai maka mustahil mereka akan menyukainya, sesuatu yang tidak mereka sukai sudah pasti tidak akan coba mereka kembangkan. Dengan demikian, cepat atau lambat randai akan mulai menghilang dari budaya masyarakat karena terkikis oleh arus perubahan zaman yang semakin mengarah kepada budaya modernisasi.
          Pengajaran Randai sejak dini kepada anak adalah suatu yang positif untuk dilakukan dalam membentengi generasi bangsa terhadap “kuatnya aliran” budaya barat yang masuk ke indonesia khususnya minangkabau. Dengan belajar randai, maka anak-anak seperti telah di arahkan untuk “menanamkan” budaya minangkabau kedalam kehidupan mereka. Dengan demikian, pergaulan bebas yang selama ini  identik dengan budaya barat bisa di hindari. Menghilangkan pelajaran kesenian di sekolah-sekolah berarti telah membantu “mengubur” jati diri bangsa, karena seni budaya adalah cerminan dari sebuah jati diri bangsa tersebut.
          Permasalahan yang muncul sekarang ini adalah bagaimana membuat randai tersebut menarik simpati masyarakat khususnya anak muda. Sehingga ketika ada pelajaran/pelatihan tentang kesenian tradisional itu tidak di anggap enteng dan tidak berguna. Hal itu sekaligus mengingatkan kita bahwa Randai tidak hanya mempelajari aspek psikomotorik, namun juga afektif, dan kognitif. Bagaimanapun juga nilai-nilai yang terkandung di dalam randai mampu memberikan pengaruh yang positif terhadap mental masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman. Tantangan tersebut terkait dengan image atau pandangan sebagian orang tua anak yang masih memandang remeh kesenian randai.
          Dengan melihat luas ke dalam pergaulan yang ada di bangsa kita sekarang ini, hendaknya kita semua sadar betapa pentingnya mempelajari kesenian tradisional. Di dalam kesenian tradisional kita di ajarkan bagaimana cara hidup dalam budaya dan norma-norma adat yang positif. Warisan budaya harus segera kita pahami sebagai sesuatu yang berguna dalam kehidupan sehari-hari, berubah sesuai kebutuhan kehidupan, dan karena itu ia lestari. Warisan budaya yang tangguh harus mampu menun­jukkan kemampuannya untuk dinamis. Karakter inilah yang harusnya mulai direproduksi. Karakter yang mampu bersaing, membuka diri, sekaligus memiliki sistem pertahanan diri dan budaya yang tangguh.
          Saya selalu berharap, kalau pemerintah mau memasukkan pelajaran Randai ke dalam kurikulum sekolah, bukan saja karena ia adalah kesenian yang telah dikenal di seluruh dunia dan membanggakan bangsa kita, akan tetapi juga karena randai dapat membantu menemukan identifikasi “jati diri”, bagian penting dalam pembentukan karakter generasi bangsa.
          Sebagai masyarakat, kita hendaknya juga ikut membantu melestarikan “budaya” bangsa yang tercakup di dalam kesenian randai. Saya juga sangat berharap, kalau masyarakat yang ada di minangkabau “membuka kembali” pintu hati mereka terhadap kesenian yang syarat akan nilai-nilai ini. 

Wawancara dengan Hanafi : Aktor teater yang sudah mencoba memerankan beberapa genre naskah


       
     Berbicara teater, tentu tidak dapat dipisahkan dari aktor, sutradara dan naskah. Dengan banyaknya genre naskah yang “dilahirkan” dalam dunia teater, maka seorang aktor di tuntut keahlian dan kejeliannya dalam bermain teater. seorang aktor yang baik, pasti akan mampu memerankan tokoh dalam setiap naskah yang di mainkan baik itu bergenre realisme, surealis, absurd, dan lain-lain. Akan tetapi sudah tentu metode akting dari setiap genre naskah tersebut berbeda. Di sinilah aktor harus mampu menunjukkan kualitasnya, ada aktor yang mampu bermain bagus dalam setiap genre dan ada pula aktor yang “terjebak” dalam suatu  genre saja. Misalnya: seorang aktor yang bermain dalam naskah absurd sangat baik, akan tetapi ketika beradegan di dalam naskah realisme, dia tetap saja menggunakan metode akting yang sama dengan absurd. Hal itulah yang coba kita tanyakan kepada Hanafi, seorang aktor yang telah mencoba bermain dalam beberapa genre naskah.

Apa naskah yang pertama kali anda mainkan?
Naskah ayahku pulang
Siapa sutradaranya?
Angga pratanata
Bagaimana kesan anda ketika pertama kali bermain teater?
Saya merasa sangat gugup, cemas, grogi dan jantung saya merasa dag dig dug, tubuh saya merasa dingin dan setiap saat sebelum pertunjukan ke wc dlu untuk buang air kecil.
Anda bilang anda takut pertama kali bermain teater, kenapa?
karena saya baru pertama itu mengenal teater dan mencoba bermain teater yang bergentre realis, sebenarnya saya dulu pernah bermain teater ketika sma, tapi Cuma sebatas tau kalau yang saya mainkan itu drama.
Apa tokoh yang anda mainkan di naskah ayahku pulang tersebut?
Menjadi tokoh maimun, yaitu seorang anak laki-laki yang baru tamat sekolah, sudah mempunyai pekerjaan, kira-kira berumur 21 tahun.
Anda bilang baru pertama kali bermain realisme, memang nya udah berapa genre teater yang sudah anda  mainkan?
3 genre
Genre apa saja itu ?
Realisme, surealisme, absurd
Naskah surealisme apa yang anda mainkan?
Naskah petang di taman, karya iwan simatupang. Naskah ini saya perankan ketika ujian pemeranan teater presentasi 2
Bagaimana kesan anda bermain dalam naskah surealisme?
Saya baru pertama kali memainkan naskah yang bergenre ini, di naskah tersebut banyak mengandung symbol-simbol yang membuat saya tidak mengerti sehingga penampilan saya waktu itu kurang maksimal dan juga saya sudah terbiasa dengan naskah realisme.
Apakah bermain surealisme membuat anda terbebani?
Pertama kali saya merasakan, saya sangat terbebani karena saya lebih terbiasa bermain dalam naskah yang bergenre realisme. Beban yang rasakan yaitu kurangnya pemahaman terhadap symbol, dan waktu itu saya dan kelompok ujian saya harus menggunakan metode akting bertol brecht. Hal tersebutlah yang mebuat saya agak canggung bermain naskah surealis, dan dengan proses latihan yang kurang dari 2 bulan  membuat semuanya tidak maksimal.
Apa asyiknya bermain surealis menurut anda?
Karena dalam naskah surealis kaya akan symbol symbol, tidak seperti realisme yang haru menghadirkan semuanya dalam keadaan utuh, seperti setting yang harus di bentuk secara utuh.
Apa ada lagi naskah surealis lain yang anda mainkan?
Belum
Apa anda berencana untuk bermain dalam naskah surealis lagi ?
Hmmmm, rencana saya mau karena saya ingin melatih keaktoran saya. Pokoknya saya berencana mencoba setiap genre naskah yang ada
Hmmm anda lebih suka realisme atau surealisme??
Saya lebih suka realisme
Kenapa demikian, bukankah kata orang realisme itu susah?
Karena ketika pertama bermain teater, saya sudah sudah di suguhkan naskah realis dan itu membuat saya sangat terbiasa dan terkesan.
Sudah berapa banyak naskah realis yang anda mainkan ?
5 naskah
Wow, naskah apa-apa saja itu ?
Ayahku pulang, penggali intan, orang kasar, fajar shidiq, senja dengan dua kematian.
Dari kelima naskah tersebut, naskah mana yang paling anda sukai?
Naskah ayahku pulang
Kenapa demikian ?
Karena di naskah tersebut saya lebih merasakan memasuki karakter tokoh dalam naskah tersebut, dan di naskah itu pula saya banyak mendapat tepuk tangan dari penonton.
Ada yang paling di sukai tentu ada pula yang tidak di sukai. Naskah mana yang tidak anda sukai?
Sebenarnya bukannya saya tidak suka, tetapi saya kurang menjiwai peran dalam naskah penggali intan, senja dengan dua kematian.
Selain genre realis dan surealis, anda tadi menyebut naskah absurd. Udah berapa kali anda bermain dalam naskah absurd?
Baru pertama kali
Saya menonton pertunjukan anda, apa kesan anda bermain dalam naskah bahtera tersebut?
Setelah bermain dalam naskah itu, saya kurang merasa puas karena sebenarnya sutradara membuat konsep tentang kebudayaan aceh, dan ituyang membuat saya sedikit terbebani, sebenarnya itu juga salah saya sebagai aktor, karena kurang “mencari” atau meneliti tentang kebudayaan aceh, tapi di sisi lain saya merasa sangat senang sekali karena seluruh penonton memberi apresiasi yang membuat saya terkejut setelah pementasan tersebut.
Dari segi keaktoran, anda memerankan tokoh yang berumur 200 tahun, apakah anda terbebani?
Jujur, ini baru pertama kali saya memerankan tokoh kakek yang berumur 200 tahun. Yang saya rasakan pertama kali latihan, saya selalu salah dan baru pertama kali juga saya membungkukkan badan dan merubah suara menjadi orang yang sangat tua.
Sebagai penonton, saya puas melihat pertunjukan anda. Tapi ketika anda berdendang sambil memukul rafa’I, saya melihat anda lepas control. Apakah itu adalah konsep dari sutradaranya?
Sudah jelas itu bukan konsep sutradara, sebenarnya itu kesalahan saya karena telah lepas control. Pembelaan yang saya ajukan: yang pertama saya harus berdendang dengan suara tua menyanyikan lirik aceh yang saya kurang pasif, yang kedua yaitu dimana saya harus membungkukkan badan sambil memukul rafa’I yang sangat berat dan itulah yang mebuat saya letih dimana keringat saya bercucuran dan pinggang saya terasa amat sakit ketika itu. Dan ketiga, proses latihan sangat minim yang hnaya mempunyai waktu kurang dari 2 bulan, dan dalam waktu yang singkat itu ada juga kendala seperti aktor sakit sehingga latihan diliburkan selama kurang lebih dua minggu.
Melihat penonton yang begitu antusias, apakah anda merasa senang?
Sudah jelas saya merasa sangat gembira dan bangga.
Apakah anda merasa cemas ketika mau mementaskan naskah bahtera tersebut?
Sudah sangat jelas saya merasa cemas.
Kenapa bisa demikian?
Karena jujur sebelum saya mentas, saya sedikit pasrah. Apakah pertunjuikan berjalan sukses atau tidak karena saya belum terlalu lancer menghafal naskah bagian akhir. Dan di saat make up, saya masih sempat menghafal naskah bagian akhir. Dan satu lagi kecemasan saya saat itu ialah takut mengecewakan sutradara yang notabene nya dosen saya sendiri.
Apakah dari sekian banyak naskah yang anda mainkan, apakah naskah bahtera ini yang paling banyak penontonnya?
Iya, tapi hampir sama banyak penontonnya dengan naskah ayahku pulang.
Apakah naskah bahtera tersebut berencana di pentaskan kembali?
Saya sebagai aktor belum mengetahui secara pasti, namun saat diskusi berlangsung sutradaranya mengatakan pementasan ini tidak hanya sampai di sini.
Berarti ada kemungkinan naskah ini di pentaskan, bagaimana menurut anda?
Ya, saya sebagai aktor berharap demikian. Tetapi saya harus latihan lebih keras lagi dan mendalami budaya aceh seperti konsep yang telah dibuat sutradara.
O ya, lawan main anda dalam naskah tersebut adalah dosen juga, apakah anda merasa agak canggung apalagi ada adegan berpelukan?
Jelas sekali saya merasa agak canggung, tapi akhirnya saya mulai terbiasa dengan tuntutan peran yang ditujukan kepada saya oleh sutradara. Saat pertama kali proses latihan dan sutradara menyuruh beradegan pelukan, saya sudah terlebih dahulu gemetar dan kaku.
Selain naskah realis, surealis, absurd. Apakah anda pernah bermain dalam naskah bergenre lain ?
Ya pernah
Naskah bergenre apakah itu ?
Naskah klasik, yaitu naskah Oedipus at colonus karya shopocles meskipun hanya dalam beberapa penggalan naskah (fragmen)
 Oedipus, wow naskah yang melegenda. Tokoh apa yang anda perankan waktu itu ?
Saya memerankan tokoh Oedipus.
Apakah susah bermain naskah klasik seperti itu?, karena saya tau naskah klasik tersebut sangat puitis.
Saya merasa enjoy, walaupun pertama kali saya bermain dalam naskah klasik.
Dari sekian banyak genre naskah yang anda mainkan, yang mana paling anda sukai?
Tetap realisme
Kalau dalam naskah tradisi, seperti randai. Apakah anda pernah memerankan suatu tokoh?
Belum, saya baru sebatas menjadi legaran.
Dari segi aktor anda bisa di bilang sudah ok. Apakah anda tidak berniat untuk menggarap atau menjadi sutradara?
Ya , saya berencana untuk mencoba menggarap dalam waktu dekat.
Naskah genre apa yang akan anda garap?
Kalau itu yang di tanyakan, saya pasti jawab realisme
Sepertinya anda sangat” mengagungkan” realisme. Kenapa anda menganggap realisme itu sangat special?
Karena dalam realis tersebut hampir mirip dengan kenyataan.
 Apa judul naskah yang ingin anda garap tersebut?
Naskah orang kasar karya Anton P Chekov.
Satu lagi pertanyaan, bagaimana menurut anda perkembangan teater di ISI Padang Panjang sendiri?
Saya melihat perkembangannya cukup baik, dan semoga lebih baik lagi kedepannya.

 Oke hanafi, aku kira sudah cukup. Terima kasih atas waktu yang telah di berikan.